Teknik Kompresi Lossless dan Lossy pada Audio

Kompresi audio merupakan salah satu solusi yang cukup populer untuk digunakan terkait dengan masalah storage dan akses real time. Teknik kompresi digunakan se-optimal mungkin dengan memperhatikan beberapa aspek sehingga menghasilkan teknik kompresi yang lossless dan lossy. Untuk kebutuhan sehari – hari teknik lossy banyak digunakan, mengingat rasio kompresi yang besar sehingga sangat berpengaruh pada aspek storage dan keterbatasan kemampuan telinga manusia.

Pada teknik kompresi lossless terdapat teknik Free Lossless Audio Codec (FLAC) yang memanfaatkan tingginya korelasi antara sampel pada audio. Sedangkan pada teknik kompresi lossy terdapat LPC, CELP, MPEG. merupakan teknologi kuno yang digunakan untuk suara manusia.

Tujuan dari kompresi data adalah mengecilkan ukuran file audio tanpa merubah informasi dari data tersebut. Walaupun kenyataannya pada teknik kompresi lossy ada berberapa data yang tidak dapat dikembalikan ke semula. Seperti pada teknik kompresi pada umumnya, kompresi audio baik lossy maupun lossless, memanfaatkan adanya redudansi informasi dengan dengan pengkodea, pengenalan pola maupun prediksi linear seperti pada kompresi audio [1}. Kompresi dilakukan pada saat pembuatan file audio dan pada saat distribusi audio tersebut.

Rasio kompresi adalah ukuran persentase data yang telah berhasil dimampatkan. Bila rasio kompresi adalah 50 %, artinya 50 % data semula telah berhasil dimampatkan. Sehingga secara matematis dapat rumuskan sebagai berikut;

Rasio = (F-Fterkompresi) X 100 %………. (1)

F

Dimana F adalah ukuran file asli dan Fterkompresi adalah ukuran file yang terkompresi.

Pada kompresi lossless, hasil kompresi dapat dikembalikan ke data semula oleh itu rasio kompresi pada teknik kompresi lossless tidak terlalu besar atau cenderung kecil. Sedangkan pada teknik kompresi lossy memanfaat kan keterbatasan manusia misalnya pada pendengaran, maka dari itu ratio kompresi cukup besar.

Teknik Kompresi Lossless
Kompresi lossless merupakan metoda kompresi data yang memungkinkan data asli dapat disusun kembali dari data hasil kompresi maka rasio kompresi pun tidak dapat terlalu besar untuk memastikan semua data dapat dikembalikan ke bentuk semula. Kompresi lossless untuk data audio mirip dengan algoritma kompresi lossless generik, dengan rasio kompresi 50 % sampai 60 %, meskipun dapat mencapai 35 % pada data musik orchestra atau paduan suara yang tidak terlalu banyak noise [1].

Ada dua tahap utama dalam kompresi lossless pada data audio, yaitu prediction dan residual coding. Prediction adalah proses dimana hanya nilai dari sample pertama yang disimpan. Nilai dari sample-sample lain ditentukan oleh nilai sample sebelumnya. Dengan asumsi bahwa setiap sample suara yang berdekatan tidak memiliki perbedaan nilai yang sangat besar. Sample hasil prediksi tentu tidak sama persis dengan sample yang sebenarnya. Untuk memastikan kompresi bersifat lossless, selisih antara sample hasil prediksi dengan sample original harus disimpan. Selisih ini disebut dengan residu. Untuk lebih menghemat tempat, residu ini juga disimpan secara terkodekan. Inilah yang disebut dengan residual coding.

Kompresi  lossless  utamanya   digunakan   untuk  pengarsipan,   dan   penyuntingan.   Untuk   keperluan pengarsipan. Maka   kompresi  lossless  selalu digunakan   dalam  sound   engineering.   Selain   kedua kegunaan itu, kompresi  lossless juga biasa digunakan oleh   para  audiophile,   yaitu   penggemar  musik   yang senang mendengarkan musik dengan kualitas   tinggi dengan perangkat  keras yang berkualitas  tinggi  pula. Data   audio   yang   terkompresi   secara  lossless  juga  digunakan untuk menghasilkan data audio versi  lossyuntuk didistribusikan.

Free Lossless Audio Codec (FLAC)

Format FLAC memanfaatkan tingginya korelasi antar sample pada data audio yang menggunakan prediksi linear untuk mengkonversi sample menjadi deretan angka yang disebut residu, yang kemudian disimpan dengan Golomb-Rice coding.

Ada beberapa tahapan dalam kompresi LPAC;

i.    Blocking

Blok dalam FLAC mengacu pada deretan sample pada beberapa channel. Ukuran blok dapat berbeda-beda, bergantung pada beberapa faktor termasuk sample rate. Ukuran blok ini mempengaruhi rasio kompresi secara langsung.

Jika ukuran blok terlalu kecil, maka dibutuhkan banyak frame sehingga banyak bit akan terbuang untuk menyimpan frame header.

Jika terlalu besar, karakteristik sinyal audio akan terlalu bervariasi sehingga sulit menemukan predictor yang optimal.

FLAC membatasi ukuran blok antara 16 hingga 65535 sample / blok.

ii.    Interchanel Decorelation

Untuk data stereo, seringkali banyak korelasi antara channel kiri dan kanan. Dengan demikian terdapat beberapa metode penyimpanan channel ke dalam blok sebagai berikut:

  • Independent, kedua channel dikodekan terpisah.
  • Mid-side, menyimpan rata-rata sinyal kedua channel sebagai
  • Mid channel dan selisih antara channel kiri dengan kanan sebagai side channel.
  • Left-side, menyimpan channel kiri dan side channel.
  • Right-side, menyimpan channel kanan dan side channel.

iii.    Tahapan Prediction

Encoder mencari aproksimasi deskripsi matematis dari sinyal pada setiap blok.  Ukuran deskripsi lebih kecil dari ukuran sinyal.

Metode prediksi ini dikenali oleh encoder maupun decoder sehingga pada hasil kompresi cukup disertakan parameter prediksi. 4 metode dlm prediction:

  • Verbatim, Sinyal prediksi adalah nol, sehingga residu sama dengan sinyal yang sebenarnya (tidak ada kompresi).
  • Constant, Metode ini digunakan jika dalam channel tertentu pada suatu blok terdapat digital silence / nilai yang konstan.
  • Fixed linear prediction.
  • FIR linear prediction.

iv.    Tahapan Residual Coding

Prediktor tidak dapat mendeskripsikan sinyal dengan persis, oleh karena itu perlu disimpan selisih antara sinyal asli dengan sinyal hasil prediksi – residu.

Efektivitas prediksi dapat terlihat dari ukuran residu yang dibutuhkan.

Residu disimpan dengan salah satu dari dua cara rice coding:

  • Menggunakan satu parameter untuk seluruh residu, didasarkan pada variasi nilai residu.
  • Residu dibagi dalam beberapa bagian, dengan parameter sendiri yang  ditentukan dari nilai rata-rata residu pada setiap bagian.

Teknik Kompresi Lossy

Prinsip dasar kompresi lossy pada data audio memanfaatkan teori psikoakustik, yaitu keterbatasan pendengaran manusia. Telinga manusia hanya dapat menangkap suara dalam rentang 20Hz hingga 20000Hz, maka dalam kompresi lossy, data suara di luar rentang tersebut tidak disimpan. Lebih dalam lagi, suara dengan frekuensi tinggi hanya dapat didengar oleh telinga manusia jika memiliki amplitudo yang tinggi juga. Oleh karena itu, noise pada data audio (yang biasanya memiliki amplitude rendah) dapat ‘disembunyikan’ dengan cara disimpan pada rentang frekuensi tinggi. metode untuk mengkompresi data dan men-dekompresinya, dimana data yang diperoleh mungkin berbeda dari yang aslinya tetapi cukup dekat perbedaanya, penurunan (perbedaan) kualitas data disebut compression artefacts.

Kompresi  lossy  pada   data   audio   sangat   banyak digunakan, baik secara langsung (misalnya pada mp3 player)  maupun   secara   tidak   langsung   (terkandung dalam DVD video,   televisi  digital,  video  streaming, dan sebagainya).  Kompresi   ini  digunakan konsumen audio,   sebab   dengan   rasio   kompresi   yang   sangat tinggi (5%   hingga 20%) kualitas suara masih cukup baik.  Di   tangan audio   engineer ,sedikit penurunan kualitas dapat   berpengaruh   secara   beruntun   pada proses engineering, oleh sebab itu produksi data audio tidak menggunakan kompresi lossy.

Untuk data audio secara umum, format yang sangat populer adalah MP3 yang merupakan bagian dari MPEG yang menangani layer audio (MPEG layer III), AAC yang merupakan pengembangan lebih lanjut, serta OGG. Untuk data speech, terdapat beberapa format seperti A-law/µ-law yang digunakan pada telepon, AMR pada GSM, AMR-WB untuk CDMA, dan sebagainya.

Teknik Kompresi MP3

MP3  merupakan  format  yang  menarik  karena  bisa mempertahankan  kualitas  suara  sementara  memiliki ukuran  yang  tidak  terlalu  besar.  Teknologi  ini dikembangkan  oleh  seorang  insinyur  Institut  Fraunhofer di  Jerman,  Karlheinz  Brandenburg.  MP3  terdiri  dari banyak  sekali  frame  ,dimana  setiap  frame  mengandung sebagian  detik  dari  data  audio  yang  berguna,yang  siap dikonstruksi  ulang  oleh  decoder.  Yang  dimasukkan  ke setiap  bagian  awal  dari  frame  data  adalah  “header frame”,yang  mengandung  32  bit  meta-data  yang berhubungan dengan frame data yang masuk.

Berikut adalah karateristik MP3;

  • Bit  rate  terbatas,  maksimum  320  kbit/s  (beberapa encoder  dapat  menghasilkan  bit  rate  yang  lebih  tinggi, tetapi  sangat  sedikit  dukungan  untuk  mp3-mp3  tersebut yang memiliki bit rate tinggi
  • Resolusi  waktu  yang  digunakan  mp3  dapat  menjadi terlalu  rendah  untuk  sinyal-sinyal  suara  yang  sangat transient, sehingga dapat menyebabkan noise.
  • Resolusi  frekuensi  terbatasi  oleh  ukuran window  yang panjang kecil, mengurangi efisiensi coding.
  • Tidak ada scale factor band untuk frekuensi di atas 15,5 atau 15,8 kHz.
  • Mode jointstereo dilakukan pada basis per frame.
  • Delay bagi encoder/decoder tidak didefinisikan, sehingga tidak  ada  dorongan  untuk  gapless  playback  (pemutaran audio tanpa gap). Tetapi, beberapa encoder seperti LAME dapat  menambahkan  metadata  tambahan  yang memberikan  informasi  kepada  MP3  player  untuk mengatasi hal itu.

Sedangkan ada beberapa model dalam teknik kompresi MP3;

[1].  Model Psikoakustik

model yang menggambarkan karakteristik pendengaran manusia memiliki batas frekuensi 20 Hz s/d 20 kHz, dimana suara yang memiliki frekuensi yang berada di bawah ambang batas ini tidak dapat didengar oleh manusia, sehingga suara seperti itu tidak perlu dikodekan.

[2].  Auditory Masking

Manusia tidak mampu mendengarkan suara pada frekuensi tertentu dengan amplitudo tertentu jika pada frekuensi di dekatnya terdapat suara dengan amplitudo yang jauh lebih tinggi

[3].  Critical Band

Critical band merupakan daerah frekuensi tertentu dimana pendengaran manusia lebih peka pada frekuensi-frekuensi rendah, sehingga alokasi bit dan alokasi sub-band pada filter critical band lebih banyak dibandingkan frekuensi lebih tinggi.

[4].  Joint Stereo

Terkadang dual channel stereo mengirimkan informasi yang sama. Dengan menggunakan joint stereo, informasi yang sama ini cukup ditempatkan dalam salah satu channel saja dan ditambah dengan informasi tertentu. Dengan teknik ini bitrate dapat diperkecil.

4.    Kesimpulan

Teknik kompresi audio lossless dan lossly memiliki perbedaan pada rasio kompresinya, hal ini terjadi karena pada teknik lossless data yang dikompresi dapat dikembalikan secara utuh ke data yg semula, sedangkan pada teknik lossly hanya sebagian data saja yang dikembalukan ke data semual. Untuk penggunaan sehari-hari teknik lossly sering digunakan karena aspek storage dan keterbatasan pendengaran manusia.

 

Refensi

[1].  Satrio Adi Rukmono, Kompresi Data Audio, Kompresi Data Audio, ITB

[2].  Alastair Porter, Free Lossless Audio Codec, 2011

[3].  Willy Setiawan, Penggunaan Kode Huffman dalam Kompresi Audio, 2009

 

Menuju Siaran TV Digital

Kesal dengan tayangan televisi yang kusut dan bikin sakit mata? Jangan khawatir. Ada kabar gembira hal tersebut akan segera berakhir. Sebab, Indonesia sudah mulai memasuki era TV digital. Pasalnya, sistem penyiaran televisi digital ini mampu memancarkan sinyal gambar dan suara yang berkualitas lebih tajam dan jernih dibandingkan siaran analog.

Kualitasnya yang lebih baik itu disebabkan pancaran sinyal digital relatif stabil dan tidak menurun. Dalam sistem ini, siaran TV digital hanya mengenal kondisi diterima atau tidak diterima sinyal sama sekali. Memang konsekuensinya, ketika tidak bisa diterima, gambar akan hilang sama sekali. Namun, selama sinyal bisa diterima, gambar dan suara konten siaran dapat dinikmati dengan kualitas prima.

Sementara, pada siaran TV analog, kualitas sinyal cenderung menurun ketika lokasi penerimaan jauh dari titik transmisi. Inilah yang membuat terkadang gambar tidak jelas atau ‘bersemut’.

Hal ini memang bukan termasuk kabar baru. Sudah sejak akhir 2012, infrastruktur pendukung TV digital mulai dibangun. Proses ini dimulai dari Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Bahkan, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Ismail Cawidu, mengatakan, sekarang melalui Kominfo, proses migrasi teknologi ini telah menjangkau ke 11 provinsi.

Sementara di luar negeri sendiri, tren ini sudah berjalan sejak awal 2000-an. Bahkan, beberapa negara sudah menghentikan siaran analog, seperti di Jepang, Korea, Eropa Barat, dan Amerika. Tadinya Indonesia sempat menetapkan Analog Switch Off (ASO) pada 2018. Namun, keputusan ini banyak menuai protes. Hingga akhirnya diputuskan untuk menetapkan switch off by natural.

“Artinya, TV analog akan ditiadakan dengan sendirinya sampai semua masyarakat secara alami beralih ke TV digital. Sementara di masa transisi ini, sinyal analog dan digital dipancarkan secara bersamaan yang dikenal dengan simulcast,” kata Ismail kepada Republika.

Lalu, apa urgensinya pengalihan tersebut?  Menurut Ismail, pengalihan teknologi dari analog ke digital bukan hanya demi mendapatkan siaran TV yang jernih. Program ini juga bukan sekadar menjaga gengsi. Perubahan teknologi ke digital dibutuhkan negara ini.

Proses migrasi ini karena teknologi analog dianggap boros frekuensi. Padahal, saat ini penggunaan bandwidth semakin meningkat. Jaringan ini sudah digunakan masyarakat luas untuk komunikasi seluler melalui ponsel atau perangkat mobile lainnya.

“Seiring makin banyaknya penggunaan fitur dan aplikasi, digitalisasi diperlukan untuk menata komunikasi di masa yang akan datang. Jika tidak, komunikasi mobile di Indonesia akan mengalami stagnasi,” ujarnya.

Dengan digitalisasi televisi, lanjut Ismail, penggunaan frekuensi bisa lebih hemat. Pasalnya, satu channel bisa diisi untuk beberapa program siaran. Bahkan, dengan teknologi terbaru yang dianut Indonesia saat ini, Digital Video Broadcasting Terrestrial generasi ke-2 (DVB-T2), kapasitas bisa lebih banyak. Dengan demikian, migrasi TV analog ke digital adalah sebuah keniscayaan.

Pengamat telekomunikasi dan anggota Dewan Penasihat Komisi Independen Telekomunikasi dan Penyiaran Indonesia (KITPI), Erina Tobing, menjelaskan, pada sistem penyiaran TV analog, satu kanal frekuensi digunakan untuk menyalurkan satu program siaran TV. Sementara pada sistem penyiaran digital DVB-T2, satu kanal frekuensi mampu membawa hingga 12 program siaran.

“Artinya, ada optimalisasi pemanfaatan kanal frekuensi pada sistem digital sehingga penggunaan frekuensi menjadi lebih efisien,” katanya menjelaskan.

Menurut Erina, kapasitasnya yang memungkinkan banyak konten membuat siaran digital menjadi lebih personal. Artinya, tiap konten siaran bisa lebih khusus. Penonton lebih bisa memilih konten mana yang paling sesuai dengan kesukaannya. “Ada saluran golf sendiri, sepak bola sendiri, atau khusus saluran masak,” ujarnya menambahkan.

Hal tersebut, tuturnya, membawa pada manfaat siaran digital lainnya, khususnya dalam bidang ekonomi. Dengan siaran khusus semacam itu, kreativitas bangsa bisa ikut terpacu. Pasalnya, lembaga penyiaran dipaksa untuk menjadi lebih kreatif menciptakan konten baru. Production house (PH) pun akan makin banyak bermunculan.

Sementara bagi masyarakat luas, mereka mendapat figur dan wadah baru untuk menyalurkan hobinya. Dengan ini, akan muncul banyak kreasi baru, yang akhirnya ekonomi pun menguat. “Kita bisa membangkitkan semangat lewat siaran digital semacam ini,” Erina menegaskan.

Untuk bisa menikmati siaran analog, terang Erina, masyarakat tidak harus membeli TV digital. TV analog yang saat ini masih banyak digunakan, bisa menerima siaran itu dengan bantuan perangkat set top box (STB). Perangkat converter tambahan ini adalah alat bantu yang berfungsi mengonversi dan mengompresi sinyal digital. Hasilnya, sinyal digital ini tetap dapat diterima pada pesawat TV analog.

Maka, keberhasilan proses migrasi teknologi ini bisa dikatakan sangat bergantung pada keputusan masyarakat. Pemerintah, menurut Erina, diharapkan dapat mendorong dengan mengambil peran sebagai penerangan maupun fasilitator. Fasilitator di sini dengan memberikan suntikan bantuan bagi mereka yang tidak mampu, sebagaimana yang juga telah dilakukan di AS. N c69 ed: anjar fahmiarto

referensi : www.republika.co.id

Cara Mengganti Background Foto dengan Photoshop

Cara Menghilangkan/Mengganti Background Foto Dengan Photoshop

Halloooo agan-agan dan Para Bloger, terima kasih sebelumnya sudah menyempatkan dan mampir di Blog yang jelek ini.. heheheh

Ayo siapa dari agan-agan yang suka edit” foto???? Pasti lah ya di zaman sekarang ini edit foto adalah hal yang wajib sebelum mengupload foto ke media sosial… iya kan…????? heheh

Berbahagialah agan-agan dan para bloger yang sudah berkunjung ke Blog ane, karena sekarang ane akan coba mengshare ilmu tentang “Cara Menghilangkan/Mengganti Background Foto dengan Photoshop”… hehehe lebay dikit gpp lah ya :D

Langsung aja ke TKP..

1. Pertama” ayo di buka dulu Photoshop nya..

2. Kemudian buka File Open / Open As, cari gambar yang akan di edit lalu OK..

3. Pilih salah satu alat pemotong, di sini kita akan menggunakan Polygonal Lasso Tool.

1

4. Klik pada tepi foto untuk memulai memotong. Klik sekali, klik lagi untuk membentuk sudut baru dan klik dua kali untuk mengakhiri pemotongan anda.

Like Gambar Below ya…

2

5. Jika sudah, tekan Ctrl + J di keyboard kalian.

6. Nah, sekarang Layer kalian menjadi dua Layer, ( Layer Background dan Layer 1 )

3

7. Klik kanan pada layer Background, pilih Delete Layer atau langsung tekan Delete di keyboard kalian. Sekarang Layer kalian  tinggal Layer 1.

4

8. Klik kanan Erasel Tool, pilih Erasel Tool.

5

9. Pilih Brush, lalu atur seberapa besar penghapus yang anda inginkan pada Brush => Master diameter, dengan cara tarik slidernya ke kanan untuk memperbesar dan ke kiri sebaliknya.

6

10. Atur juga beberapa % Opacity maupun Flow yang kalian inginkan.

7

11. Selanjutnya kita akan memulai menghapus pinggiran foto untuk menyempurnakan potongannya. Caranya klik tahan, geser brush eraser ke arah gambar background sampai bersih.

Catatan: Agar penghapusan kita lebih akurat, zoom + gambar kalian dengan Zoom Tool.

8

12. Untuk memastikan apakah foto anda sudah bersih background-nya, klik Layer, Layer Style => Stroke.

9

Perhatikan titik-titik merah di luar Outline gambar.

13. Klik kembali Erasel Tool lalu bersihkan semua background yang masih tersisa.

14. Jika sudah ulangi langkah 12 , hilangkan centang pada stroke. Maka hasilnya akan seperti gambar di bawah:

10

15.Sudah selesai kah ? Sekarang kita bebas mengisi background-nya.

16. Save As foto hasil kerja kalian dalam format PSD. Mengapa PSD ? karena jika suatu saat kita ingin memberi background tinggal membuat layer baru tanpa mengedit kembali fotonya.

17. Sekarang saatnya memberi Background pada gambar kita. Buat layer baru di bawah layer 1;

11

18. Kemudian pilih Blending Option => Gradient Overlay atur seperti gambar di bawah;

12

Okkk dan hasilnya seperti di bawah ini….

13

 

Selamat Mencoba agan” semua…

semoga berhasil dengan selamat ya… heheheh

salah satu dua kali mah gpp lah… namanya juga belajar kan… :D

thank’s

Selamat Menulis

Selamat Datang di Dunia Blog, dan selamat menulis…

Pengelola blog kembali mengingatkan akan peraturan pemakaian Blog Universitas Widyatama Bandung adalah sebagai berikut :

  1. Blog ini merupakan milik Universitas Widyatama termasuk didalamnya seluruh sub domain yang digunakan sehingga apa yang terdapat didalam blog ini secara umum akan mengikuti aturan dan kode etik yang ada di Universitas Widyatama Bandung.
  2. Blog ini dibuat dengan menggunakan aplikasi pihak ke tiga (WordPress), dan lisensi plugin plugin didalamnya terikat terhadap developer pembuat plugin tersebut.
  3. Blog ini dapat digunakan oleh Karyawan, Dosen dan Mahasiswa Universitas Widyatama Bandung.
  4. Dilarang melakukan registrasi username atau site/subdomain blog dengan menggunakan kata yang tidak pantas.
  5. Dilarang memasukkan konten dengan unsur SARA, pornografi, pelecehan terhadap seseorang ataupun sebuah institusi.
  6. Dilarang menggunakan blog ini untuk melakukan transaksi elektronik dan pemasangan iklan.
  7. Usahakan sebisa mungkin untuk melakukan embed video atau gambar di bandingkan dengan melakukan upload secara langsung pada server.
  8. Pelanggaran yang dilakukan akan dikenakan sanksi penutupan blog dan atau sanksi yang berlaku pada aturan Universitas Widyatama sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  9. Administrator berhak melakukan pembekuan account tanpa pemberitahuan terlebih dahulu jika dianggap ada hal hal yang melanggar peraturan.
  10. Aturan yang ada dapat berubah sewaktu waktu.

Beberapa Link terkait Universitas Widyatama

  1. Fakultas Ekonomi - http://ekonomi.widyatama.ac.id
  2. Fakultas Bisnis & Manajemen – http://manajemen.widyatama.ac.id
  3. Fakultas Teknik – http://teknik.widyatama.ac.id
  4. Fakultas Desain Komunikasi Visual – http://dkv.widyatama.ac.id
  5. Fakultas Bahasa – http://bahasa.widyatama.ac.id

Layanan Digital Universitas Widyatama

  1. Biro Akademik – http://akademik.widyatama.ac.id
  2. Rooster Kuliah – http://rooster.widyatama.ac.id
  3. Portal Mahasiswa – http://mhs.widyatama.ac.id
  4. Portal Dosen – http://dosen.widyatama.ac.id
  5. Digital Library – http://dlib.widyatama.ac.id
  6. eLearning Portal – http://learn.widyatama.ac.id
  7. Dspace Repository – http://repository.widyatama.ac.id
  8. Blog Civitas UTama – http://blog.widyatama.ac.id
  9. Email – http://email.widyatama.ac.id
  10. Penerimaan Mahasiswa Baru – http://pmb.widyatama.ac.id/online

Partner UTama

  1. Putra International College – http://www.iputra.edu.my
  2. Troy University – http://www.troy.edu
  3. Aix Marsielle Universite – http://www.univ-amu.fr
  4. IAU – http://www.iau-aiu.net/content/institutions#Indonesia
  5. TUV – http://www.certipedia.com/quality_marks/9105018530?locale=en
  6. Microsoft – https://mspartner.microsoft.com/en/id/Pages/index.aspx
  7. Cisco – http://www.cisco.com/web/ID/index.html
  8. SAP – http://www.sap.com/asia/index.epx
  9. SEAAIR – http://www.seaair.au.edu

Academic Research Publication

  1. Microsoft Academic  -  http://academic.research.microsoft.com/Organization/19057/universitas-widyatama?query=universitas%20widyatama
  2. Google Scholar – http://scholar.google.com/scholar?hl=en&q=Universitas+Widyatama&btnG=

Info Web Rangking

  1. Webometric – http://www.webometrics.info/en/detalles/widyatama.ac.id
  2. 4ICU – http://www.4icu.org/reviews/10219.html